Minggu, 06 Januari 2013

novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta


Kemarin saya menuntaskan membaca sebuah novel berjudul “Ketika Tuhan Jatuh Cinta” yang saya beli bersama adik saya di sebuah toko buku terkenal di Kota Bandung kira-kira 3 minggu yang lalu. Saat memilik waktu luang seperti kemarin (sela-sela waktu luang diantara uas L) baru saya menyempatkan membaca.

Sebelum sedikit membahas tentang isi novel yang saya baca, sebelumnya saya akan menceritakan awal mula sehingga akhirnya saya membeli novel tersebut. pada saat sedang berjalan-jalan dengan adik saya, kebetulan di toko buku yang terletak di Jalan Merdeka, Bandung ini sedang mengadakan sale akhir tahun, saya pun memutuskan untuk melihat-lihat siapa tahu menemukan beberapa buah buku yang menarik. Pertama melihat novel ini, saya langsung merasa tertarik dengan judulnya yang sedikit unik, karena berani membawa-bawa nama tuhan untuk diangkat sebagai judul, segera saya membaca sinopsis yang ada di belakangnya makin membuat saya tertarik


mampu merasakan sentuhan cinta Tuhan di kedalaman hati kita sungguh merupakan anugerah terbaik dan terindah dalam hidup kita. Mampu memahami diri sendiri sebagai hamba di hadapan kuasa cinta Tuhan sebagai Sang Khalik sungguh merupakan detik-detik palingberharga dalam helaian napas hidup kita. Karena hanya dengan cinta Tuhan, kita bisa menjadi pribadi yang memiliki keshalihan hati dan kekuatan hidup”.


Menarik bukan penggambaran sinopsisnya? Memang saat ini saya sedang menggemari novel-novel cinta yang terbalut nafas-nafas religius, dimana menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang lebih suci, tak ada yang dikotori oleh nafsu-nafsu duniawi, hanya terbalut kepasrahan total akan takdir cinta dari Sang Ilahi.

Di novel ini, saya menemukan sosok Ahma Hizazul Fikri sebagai sosok utama, yang penggambaran tokohnya sedikit mengingatkan saya pada tokoh Azzam pada novel Ketika Cinta Bertasbih. Pria sederhana, yang religius, cerdas, cinta keluarga, dan juga menantikan hadirnya pendamping hidup kiriman Allah (he..he..he). namun, bukan hal yang ajaib bukan apabila kita menemukan penggambaran sosok utama sebagai seorang tokoh sempurna tanpa cela (sungguh inilah yang kurang saya sukai dari cerita-cerita di Indonesia). sementara untuk tokoh utama wanita disini, tak ada yang tampak terlalu menonjol. Pertama saya menyangka sosok Leni Meisari yang diam-diam dicintai Fikri sejak tingkat awal perkuliahan lah yang menjadi tokoh sentral wanita di dalam novel ini. Namun ternyata saya salah, di tengah cerita, saat cinta mereka baru saja mulai terjalin, tokoh Leni malah dihilangkan dan muncul sedikit-sedikit saja di bagian cerita yang lain karena Leni diceritakan dijodohkan dengan pemuda lain bernama Handi.

Justru sosok Lidya Prameswari Griselda lah, gadis cantik keturunan tionghoa yang beragama katolik dan juga putri dari Koh Acung lah yang banyak diceritakan dalam novel ini, walaupun pemeran utama tidak terlibat perasaan rumit dengan tokoh Lidya ini. Adapun justru tokoh Irul atau Muhamad Syahrul, sahabat tokoh utama yang kemudian terlibat dalam perasaan dan kejadian yang rumit dengan tokoh Lidya ini, terutama saat Lidya dinyatakan hamil, sementara Irul tidak mau bertanggung jawab karena mulai tergoda saat dijodohkan dengan sosok Shira, gadis cantik blasteran Mesir-Prancis yang sedang menuntut pendidikan Magisternya di Kota Kembang ini. Cerita semakin rumit saat ternyata, baik Shira maupun Fikri sama-sama terjebak dalam perasaan yang rumit, namun di sisi lain Fikri tak dapat melupakan Leni begitu saja, apalagi setelah mendapat kabar bahwa kehidupan pernikahan Leni tidaklah bahagia.

Konflik semakin diperlengkap dengan tokoh Humaira, adik Fikri yang polos, cerdas, sholehah, namun mengalami kekecewaan cinta dengan seorang lelaki bernama Dandi yang ternyata mampu mengubah 180° kehidupan Humaira, ditambah dengan kematian tragis orang tuanya akibat kecelakaan, dan kaburnya Humaira karena merasa bersalah, makin membuat sosok Fikri didera begitu banyak persoalan yang mendera hidupnya. bagaimanakah akhir dari kisah Ahmad Hizazul Fikri ini? Saya rasa saya akan menemukan keseluruhan jawabanya dalam buku kedua Novel dwilogi ini, yang sayangnya sampai saat penulisann artikel ini belum saya beli.

Secara keseluruhan, penulisan dari novel ini cukup baik, alur cerita yang dibuat mengalir tanpa banyak flashback sehingga saya tidak kesulitan dalam memahami cerita dalam novel ini. Begitupun dengan penggambaran karakter tokoh-tokohnya, baik karakter fisik maupun karakter psikologis tokohnya yang digambarkan secara tersirat maupun dengan jelas digambarkan dalam novel. nilai plus dari novel ini adalah penulis menyispkan puisi-puisi yang relevan dengan cerita, membuat saya semakin terhanyut akan cerita yang dituliskan oleh penulis. Apalagi tidak banyak novel yang menyisipkan puisi-puisi sebagai bagian dari novel. Kemampuan penulis dalam menulis puisi yang indah, mungkin bisa saja terkait dengan latar belakang pendidikan penulis yang menempuh pendidikan keguruan di bidang bahasa dan sastra

2 komentar:

  1. salut buat kiki si manusia pasir dari desa singarajan,wkwkwkwkwk

    BalasHapus
  2. iya salut banget, andai ada yang beneran kaya gitu hahaha

    BalasHapus