Selasa, 29 Januari 2013

ilmu sejarah (tugas mata kuliah struktur ilmu sosial)


BAB II
PEMBAHASAN

1.      Definisi Sejarah
Mernbahas sejarah memang tidak akan pernah ada habisnya, sekecil apapun yang dibahas dalarn sejarah, pada point yang perlama ini karni akan memaparan tentang pengertian dan ruang lingkup sejarah. Kata sejarah secara harafiah berasal dari kata Arab (Sajaratun) yang artinya pohon. Dalarn bahasa Alab sendiri, sejarah disebut tarikh . Adapun kata tarikh dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah waktu atau penanggalan.
Pengertian pohon kayu disini adalah suatu kejadian, perembangan, atau pertumbuan,tentang suatu hal (peristiwa), dalam suatu kesinambungan atau (kontinuitas). Beberapa peneliti malah berpendapat bahwa arli syajarah tidak sama denan sejarah, sebab sejarah bukan hanya bermakna sebagai pohon keluarga, asal - usul, atau istilah. Dalam istilah bahasa-bahasa Eropa, asal-muasal istilah sejarah yang dipakai dalam literatur bahasa Indonesia itu terdapat beberapa variasi, meskipun begitu, banyak yang mengakui bahwa istilah sejarah berasal-muasal,dalam bahasa Yunani historia.
Dalam bahasa Inggris dikenal dengan history, bahasa Prancis historie, bahasa Italia istoria, bahasa Jerman geschichte, yang berarti yang terjadi, dan bahasa Belanda dikenal gescheiedenis.Namun, kata Sejarah lebih dekat pada bahasa Yunani yaitu historia (dlbaca: istoria) yang berarti ilmu atau orang pandai. Namun, dalam penggunaanya oleh filsuf terkenal dari yunani Adstoteles, historia berlari suatu pertelaan sisternatis mengenai seperangkat gejala alam, entah susunan kronologi yang merupakan faktor atau tidak di dalam pertelaan penggunaan itu, meskipun jarang, namun nyatanya masih tetap hidup.
Dalam bahasa Inggris menjadi history, yang berarti masa lalu manusia.akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, kata lain yang sama artinya yaitu scientia lebih sering dipergunakan untuk rnenyebutkan pertelaan sistemais non kronologis mengenai gejala alam, sedangkan kata istoria biasanya diperuntukan bagi pertelaan mengenai gejala gejala (terutama yang berhubungan dengan manusia) dalam urutan kronologis. Kata lain yang mendekati acuan tersebut adalah dalam bahasa jerman Geschichte yang berarti sudah terjadi. Bila dibandingkan, arli kata sejarah dalam bahasa inggris dan bahasa jerman, acapkali dijumpai di dalam ucapan-ucapanya yang terlalu sering dipakai seperli "semua sejarah rnengajarkan sesuatu" atau "pelajaran-pelajaran sejarah". Salah satu perkataan Sunnal dan Haas ( 1993:78 dalam supardan:287) pernah menyebut bahwa "History is a ctu'onological study that interprets and gives meaning to events and applies systhematic rnethods to discover the truth.
Dahulu, pembelajaran mengenai sejarah dikategorikan sebagai bagian dari ilmu budaya (humaniora).Akan tetapi, kini sejarah lebih sering dikategorikan ke dalam ilmu sosial, terutama bila rnenyangkut perunutan sejarah secara kronologis.Ilmu sejarah mempelajari berbagai kejadian yang berhubungan dengan kemanusiaan di masa lalu.Ilmu sejarah dapat dibagi menjadi krouologi, historiografi, genealogi, paleografi, dan kliometrik.Moh.Yamin pernah berkata bahwa Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dibuktikan dengan kenyataan. Sedangkan menurut J.V Brice Sejarah adalah cararan-earatan dari apa yang telah dipikirkan, dikatakan dan diperbuat oleh manusia.
Sedangkan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Tahun 1952, sejarah disebutkan
memiliki 3 arti yaitu :
a.       Menurut kesusastraan lama : silsilah, atau asal - usul
b.      Kejadian dan Peristiwa yang benar benar terjadi pada masa lampau.
c.       Ilmu, pengetahuan, cerita pelajaran tentang kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau.
Sedangkan Moh.Ali dalam bukunya 'Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia" (1963) mendefi nisikan sejarah sebagai :
a.       Jumlah perubahan-perubahan kejadian dan peristiwa dalam kenyataan sekitar kita.
b.      Cerita tentang perubahan-perubahan, kejadian, dan peristiwa dalam kenyataan sekitar kita.
c.       Ilmu yang bertugas menyelidiki perubahan-perubahan kejadian dan pelistiwa dalam kenyataan sekitar kita.
Pengertian sejarah berbeda dengan pengertian Ilmu sejarah.Sejarah adalah peristiwa yang terjadi pada masa lalu manusia sedangkan Ilmu sejarah adalah ilmu yang digunakan untuk mempelajari peristiwa penting masa lalu manusia.Apabila kita ambil peristiwa masa lampau saja, itu belum berarli sejarah. Karena, sejarahakan mengandung arti bila peristiwa masa lampau atau faktanya diberi cerita dan ceritanya harus disusun dengan menggunakan persyaratan ilmiah.
Dan menurut beberapa ahli lain, pengertian sejarah ialah:
a.       Dr. R. Ruslan Abdul Gani : Sejarah adalah merupakan cabang ilmu pengetahuan yang meneliti dan menyelidiki secara sistematic perkembangan masyarakat serta manusia di masa lampau beserta kejadian-kejadian.
b.      Prof. Dr. H. Muh. Yamin : Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan bberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan ( fakta-fakta ).
c.       Patrick Gardiner : Sejarah merupakan suatu ilmu yang mempelajari apa yang telah diperbuat manusia.
d.      W.H. Walsh : Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang menitik beratkan pada pencatatan yang berarti dan  penting bagi manusia.
e.       JV. Bryce : Sejarah adalah catatan dari apa yang dipikirkan, dikatakan, dan diperbuat oleh manusia.
f.       R. Moh. Ali : Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang menitik beratkan pada pencatatan yang berarti dan penting bagi manusia.
Terdapat dua jenis cara penulisan sejarah
a.       Sejarah Naratif
1)      uraian logis mengenai suatu proses perkembangan terjadinya peristiwa berdasarkan common sense (akal sehat), imajinasi, ketrampilan ekspresi, bahas dan pengetahuan fakta.
2)      Proses terjadinya peristiwa secara genesis (dari awal–akhir)
3)      Keterangan mengenai sebab–sebanya (kausalitas) secara deskriptif
4)      Ditulis tanpa memakai teori dan metodologi.
b.      Sejarah Ilmiah / Analisis
            Kriteria utama sejarah ini adalah mengkaji dan menyajikan suatu kejadian di masa lampau dengan menerangkan sebab–sebanya yang bersumber pada kondisi lingkungan peristiwa (kondisional) dan konteks sosialbudaya (kontekstual).Namun, pelukisan sejarah ilmiah yang pada giliranya bertujuan memberikan makna dan penjelasan tentang faktor–faktor terjadinya suatu peristiwa tersebut dapat dilakukan secara implicit di dalam deskripsi dengan ebrdasarkan konsep dan teori yang relevan.
              Lalu mengapa sejarah dapat dikatakan sebagai ilmu?
Karena memenuhi Syarat-syarat sebagai Ilmu : ( Artinya Sejarah merupakan cabang Ilmu yang berdiri sendiri, karena melalui penelitian Ilmiah
a.       Melalui Tahab-tahab Penelitian
b.      Disusun secara Sistematis
c.       Melalui /memakai Metodologis
 Sejarah akan Ilmiah ( hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan ), apabila hasilnya :
                        a Logis ( dapat diterima akal )
                         b. Sistematis ( berurutan dalam penelitian )
                        c. Obyektif ( apa adanya hasil penelitiannya )
                        d. Metodologis ( memakai teknik Penelitian )
      Untuk lebih mudahnya dalam penelitian sejarah kita akan berusaha menjawab 5 pertanyaan karena sejarah adalah ilmu atau pengetahuan untuk merekonstruksikan kembali aktivitas atau tindakan umat manusia di masa lampau dengan berusaha untuk memberi jawaban atas lima “ W “, yaitu :
a.       What ( apa wujud kejadian/apa peristiwa tersebut )
b.      Who ( siapa yang tersangkut/terlibat langsung atau tidak dalam suatu peristiwa)
c.       Where ( dimanakah peristiwa itu terjadi )
d.      Why ( mengapa peristiwa tersebut bisa terjadi )
e.       When ( kapan peristiwa itu terjadi )
Dengan demikian Sejarah dapat dimasukkan dalam suatu ilmu tersendiri. Karena memenuhi persyaratan sebagai ilmu, yakni sebagai berikut :
a.       Metode yang efisien.Sejarah yang mempunyai metode tersendiri dalam rangka pencarian dan penelitiannya, yakni dalam pengumpulan sumber, mengadakan penelitian sumber, penafsiran data serta penyajian data dalam bentuk cerita sejarah.
b.      Obyek yang definitive : Ruang lingkup sejarah adalah apa yang telah diperbuat oleh manusia di masa lampau.
c.       Formulasi dan kebenaran : Bahwa apa yang disajikan dalam cerita sejarah (historiografi), diusahakan sejauh nungkin menjauhi peristiwanya, untuk itu dilakukan analisa data secara ilmiah
d.      Penyusunan yang sistematis: Dalam usaha mulai dari langkah pertama sampai akhir dilakukan secara teratur dan sistematis. Jadi, Sejarah benar-benar dapat dimasukkan dalam ilmu tersendiri.
Dengan demikian penelitian sejarah mempunyai arti bahwa tahap penulisan sejarah (historiografi), bukan hanya sekesar menyusun dan merangkai fakta-fakta hasil penelitian, melainkan juga menyampaikan peristiwa, pikiran, dan emosi melalui interpretasi sejarah berdasarkan fakta-fakta hasil penelitian. Tetapi dalam menuliskan hasil penelitian, sejarawan atau peneliti harus sadar bahwa tulisan itu tidak hanya untuk kepentingannya tetapi juga dibaca orang lain. Untuk itu perlu dipertimbangkan struktur dan gaya bahasa penulisannya. penyajian penelitian  sejarah dalam bentuk tulisan bukan hanya sekesar menyusun dan merangkai fakta-fakta hasil penelitian, melainkan juga menyampaikan peristiwa, pikiran, dan emosi melalui interpretasi sejarah berdasarkan fakta-fakta hasil penelitian (melalui kririk dan mempertimbangkan intrepretasi subyektif dan objektifnya).
Dalam menuliskan hasil penelitian, sejarawan atau peneliti harus sadar bahwa tulisan itu tidak hanya untuk kepentingannya tetapi juga dibaca orang lain. Untuk itu perlu dipertimbangkan struktur dan gaya bahasa penulisannya dalam penyajian penelitian sejarah dalam bentuk tulisan (historiografi).
2.      Cabang Ilmu Sejarah
Karena lingkup sejarah sangat besar, perlu klasifikasi yang baik untuk memudahkan penelitian. Bila beberapa penulis seperti H.G. Wells, Will Durant, dan Ariel Durant menulis sejarah dalam lingkup umum, kebanyakan sejarawan memiliki keahlian dan spesialisasi masing-masing. Beberapa dari mereka sepakat untuk membagi peranan kedudukan sejarah menjadi 3 kelompok besar yaitu; sejarah sebagai peristiwa, sejarah sebagai ilmu, sejarah sebagai cerita (ismaun, 1993:277 dalam supardan:288)
a.        Sejarah sebagai peristiwa
Adalah sesuatu yang terjadi pacla manusia cli masa larnpau.Pengerlian manusia di masa lampau adalah sesuatu yang penting dalam definisi sejarah.Pengerlian sejarah sebagai peristiwa sebenarnya memiliki makna yang sangat luas dan beraneka ragam. Namun, keluasan dan keanekaragaman tersebut sama dengan luasnya kon-rpleksitas kehidupan manusia.Sejarah sebagai peristiwa selingjuga disebut sejarah sebagai kenyataan dan sejarah sebagai objektif (ismaun,1993 :279 dalam supardan:289). Artinya, peristiwa-peristiwa tersebut benar benar terjacli dan didukung oleh evedensi-evidensi yang menguatkan seperti berupa peninggalan (relics atau remains). Dan catatan-catatan (r'ecords) (lucey,1 984:27). Selain itu, dapat pula peristiwa itu diketahui dari sumber - sumber yang bersifat lisan yang si sampaikan dali mulut ke mulut.
b.      Sejarah sebagai ilmu
Dalam pengertianya, kita mengenal definisi sejarah yang bermacam-macarn, baik yang menyangkut persoalan persoalan.Sejarah sebagai bagian dari ilmu sosial, sejarah sebagai bagian dari ilmu hurnaniora, maupun yang berkernbang di sekitar makna dan hakikat yang terkandung dalam sejarah.
Bury (teggart,1960:36 dalam supardan:290) secara tegas menyatakan history is science no less, and more. Sedangkan menurut pendapat Pollard (ismaun,I953:282 dalam  supardan:292)menyatakanhistory is both a science and art, because it lequire scientific analysis of matrealis and an arthistic scientist of the result. Sejarah dikategorikan sebagai ilmu karena dalam sejarah pun memiliki batang tubuh keilmuan (the body of knowledge), metodologi yang spesifik.Sejarahpun memiliki struktur keilmuan tersendiri. Baikdalam fakta, konsep, maupun generalisasiya (bank, 1971:2Il-219; sjamsudin, 1996:7-I9).
c.        Sejarah sebagai cerita
Sejarah sebagai kisah adalah cerita berupa narasi yang disusun berdasarkan pendapat seseorang, rnemori, kesan atau taf'siran manusia terhadap suatu peristiwa yang terjadi pada masa lampau.Disebut sejarah sebagai subyek yang artinya sejarah tersebut telah mendapatkan penafsiran dari penyusunan cerita sejarah. Dalam hal ini sejarawan mempunyai peran sebagai "The Man Behind the Gun", artinya mereka menelusuri cerita sejarah berdasarkan jejak-jejak sejarah (sejarah sebagai peristiwa) namun tetap dipengaruhi oleh sudut pandang sejarawan itu sendiri.
Ada banyak cara untuk memilah informasi dalam sejarah, antara lain:
a.       Berdasarkan kurun waktu (kronologis).
b.      Berdasarkan wilayah (geografis).
c.       Berdasarkan negara (nasional).
d.      Beldasarkan kelompok suku bangsa (etnis).
e.       Berdasarkan topik atau pokok bahasan (topikal).

Dilihat dari ruang lingkupnya yang begitu luas, bila dibagi lagi menjadi satu pembahasan yang tematik, maka akan muncul belasan cakupan sejarah, diantaranya:
a.       Sejarah Sosial
Berdasarkan buku pengantar ilmu sosial, karangan Dadang supardan (2008:293). Pengertian sejarah sosial dibuat oleh Trevelyn dalam bukuna English Sosial History, A Survey of Six Centuries (1942).Ia berpendapat bahwa sejarah sosial adalah sejarah tanpa nuansa politik.
Lain lagi yang dikatakan oleh Robert J Bezucha (1972:x), menurutnya sejarah sosial itu ialah sejarah budaya yang mengkaji kehidupan sehari–hari anggota–anggota masyarakat dari lapisan yang berbeda–beda dan dari periode yang berbed–beda pula.
Menurut Hobsbawm (1972:2 dalam supardan:294) di dalam sejarah sosial itu diakui sejarah dari orang–orang miskin atau kelas bawah; gerakan–gerakan sosial.Berbagai kegiatan manusia, seperti tingkah laku, adat istiadat, kehidupan sehari–hari; sejarah sosial dalam hubunganya dengan sejarah ekonomi.
b.      Sejarah Ekonomi
Sebenarnya sejarah ekonomi ini lebih merupakan perpaduan dari dua disiplin ilmu, seperti namanya yaitu ilmu sejarah dan ilmu ekonomi. Sejarah ekonomi mulai dianggap sebagai bidang studi tersendiri dimulai dengan dibentuknya Economic History Society pada tahun 1926, dan jurnalnya yang begitu terkenal “Economic History Review” yang mulai terbita pada tahun 1927. Selain itu dibentuknya “National Beureu of Economic Research” pada tahun 1920.
c.       Sejarah Kebudayaan
Agak sulit untuk menjelaskan secara spesifik apa itu sejarah kebudayaan, mengingat arti kebudayaan itu sendiri sangat luas. Hal ini tentu saja sangat berseberangan dengan apa yang kita pelajari di tingkat sekolah, dimana ruang lingkup sejarah kebudayaan itu lebih berkisar pada bidang arkeologi, sesuatu yang berkaitan dengan kepercayaan, seni – bangunan, seni sastra, seni pahat, dll. Namun, dalam gaya baru, pengertian sejarah kebudayaan menjadi lebih luas, aspek – aspek seperti gaya hidup, etika, etiket pergaulan, kehidupan keluarga sehari – hari, pendidikan, berbagai adat istiadat, upacara adat, siklus kehidupan dsb (Kartodirdjo, 1992:195 dalam supardan:296).
d.      Sejarah Demografi
Sebenarnya sejarah demografi sudah ada sejak dulu, ketika John Graunt mempublikasikan “Natural and Political Observations made upon the bills Mortality” (1662).Penulisan sejarah geografi tersebut didasarkan atas data kependudukan inggris pada abad ke 16.
e.       Sejarah Politik
Dalam sejarah lama, sejarah politik memiliki kedudukan yang dominan dalam historiografi barat. Akibatnya, timbul tradisi yang kokoh bahwa sejarah konvensional adalah sejarah politik (Kartodirdjo, 1992:46 dalam supardan:298). Karakteristik utama dalam sejarah konvensional adalah bersifat deskriptif–naratif.Dalam hal itu, proses politik diungkapkan melalui satu dimensi politik belaka. Dalam sejarah politik gaya lama, biasanya mengutamakan diplomasi dan peranan tokoh–tokoh besar serta pahlawan–pahlawan yang berpengaruh besar.
        Berbeda dengan sejarah politik gaya baru yang sifatnya multidimensional, karena sejarah politik dibuat lebih menarik, mengingat eksplanasinya lebih luas, mendalam, dan tidak terjebak dalam determinisme historis (Kartodirdjo, 1992:49 dalam supardan:299). Cakupan analisisnya pun lebih luas, karena struktur kekuasaan, kepemimpinan, para elite, otoritas, budaya politik, proses mobilisasi, jarinan–jarinan politik dalam hubunganya dengan system–system dan proses sosial, ekonomi, dan sebagainya pun turut dibahas.
f.       Sejarah Kebudayaan Rakyat
Sebenarnya agak sulit untuk membedakan sejarah kebudayaan dengan sejarah kebudayaan rakyat atau the history of popular culture.Kesulitan itu secara teoritik tidak membedakan secara eksplisit antar “kebudayaan atas” dengan “kebudayaan Bawah”.Namun secara realitas–empiric, perbedaan ini tampak bukan dalam struktur, melainkan praksisnya.
g.      Sejarah Intelektual
Secara filosofis hubungan sejarah dengan intelektual lebih erat dengan aliran fenomenologi yang mengkaji tentang fenomena–fenomena atau apa saja yang tampak. Dalam suatu fakta sejarah, ragamnya dapat berupa artifact (benda), socifact (hubungan sosial), dan mentifact (kejiwaan).Namun, perlu dicatat disini, bahwa tidak semua bentuk kesadaran meninggalkan bekas. Banyak sekali peninggalan–pennggalan yang ikut musnah terbawa sampai ke liang lahat. Disinilah sejarawan dituntut keahlianya untuk dapat merekam kesadaran tersebut yang menyangkut dengan alam pikiran manusia masa lalu yang menjadi pusat perhatian sejarah intelektual.Karena, alam pikiran itu sendiri memiliki struktur yang bertahan lama dan dapat direkam.
h.      Sejarah Keluarga
Sebagaisuatu bidang riset, sejarah keluarga (family history) mulai muncul pada tahun 1950-an sebagai bagian tumbuhnya minat terhadap sejarah ekonomi dan sejarah sosial (wall, 2000:340-341 dalam supardan:300). Dimana para ahli sejarah mencari informasi mengenai keluarga dari berbagai sumber, mulai dari dokumen–dokumen legal, catatan kasus–kasus pengadilan, sejarah nama–nama keluarga, lukisan lama, naskah perjanjian, dan berbagai penggalian arkeologis di lokasi–lokasi milik pribadi, maupun milik publik untuk mengungkap cikal bakal kehidupan keluarganya (Gotain, 1978; Rawson, 1906; Gardner, 1985 dalam supardan:301).
i.        Sejarah Etnis
Pada umumya sejarah etnis (etnohistory) ditulis untuk merekonstruksi sejrah dari kelompok–kelompok etnis sejak sebelum datangnya bangsa eropa sampai dengan interaksi mereka dengan orang–orang eropa. Sejarah etnis tersebut mulai digunakan secara umum oleh pakar antropologi, arkeologi, dan sejarawan sejak tahun 1940-an (Sjamsuddin,1996:215 dalam supardan:302). Contoh sejarah etnis adalah sejarah etnis Aztec, maya, aborigin, dan maori.
Adapun ruang lingkup sejarah etnis ini mencakup kajian–kajian yang meliputi aspek–aspek sosial, ekonomi, kebudayaan, kepercayaan masyarakat, interaksi dalam lingkungan masyarakat atau kelompok, kekerabatan, perubahan–perubahan sosial–budaya, migrasi, dan sebagainya.Untuk menyusun sejarah etnis yang baik, diperlukan suatu pembahasan yang bersifat interdisipliner untuk mengungkap secara mendalam dari berbagai aspek kehidupan.
j.        Sejarah Psikologi dan Psikologi Histori
Mungkin benar tulisan peter burke dalam “History and Sosial Theory” yang menyebtkan bahwa sampai sekarang ini peranan psikologi masih agak marginal dalam historiografi, dan alasanya banyak yang menyandarkan pada relasi psikologi dan sejarah (Burke,2001:170 dalam supardan:303).
k.      Sejarah Pendidikan
Sejarah pendidikan memiliki substansi yang luas, baik yang menyangkut tradisi dan pemikiran–pemikiran berharga dari para pemimpin besar pendidikan, system pendidikan, dan pendidikan dalam hubunganya dengan sejumlah elemen–elemen penting dan problematic, khususnya dalam perubahan sosial yang menyangktu aliran–aliran.Yaitu, perenialisme, esensialisme, rekonstruksionisme, konstruksionisme, dan progresifisme. Pendekatan pembelajaranya dapat menyangkut tentang psikologi belajar behaviorisme gestalt, humanisme, kognitifisme, bahkan sampai psikologi belajar kecerdasan majemuk gardner.
l.        Sejarah Medis
Penulisan sejarah medis dilatar belakangi oleh kebutuhan para dokter yang menyadari pemahaman tradisi–tradisi pengobatan yang berbeda–beda pada masa lalu.
3.      Struktur Ilmu Sejarah
            Secara sederhana, Ismaun (1993; 125-131 dalam supardan:307) mengemukakan bahwa dalam metode sejarah meliputi:
1.      Heuristic (pengumpulan sumber–sumber)
2.      Kritik atau analisis sumber (eksternal dan internal)
3.      Interpretasi
4.      Historiografi (penulisan sejarah)
Sedangkan ilmu bantu dalam penulisan sejarah terbagi atas hal–hal berikut;
1.      Paleontology, yaitu ilmu tentang bentuk–bentuk kehidupan purba yang pernah ada di muka bumi ini, terutama fosil.
2.      Arkeologi, yaitu kajian ilmiah mengenai hasil kebudayaan, baik dalam periode prasejarah maupun periode sejarah yang ditemukan melalui ekskavasi–ekskavasi di situs–situs arkeolog.
3.      Paleoantropologi, yaitu ilmu tentang manusia–manusia purba atau antropologi ragawi.
4.      Paleografi, yaitu kajian tentang tulisan–tulisan kuno. Termasuk ilmu membaca dan penentuan waktu.
5.      Epigrafi, yaitu pengetahuan tentang cara membaca, menentukan waktu, dan menganalisis tulisan kuno pada benda–benda yang dapat bertahan lama (batu, logam, dsb).
6.      Ikonografi, yaitu arca–arca atau patung–patung kuno sejak jaman prasejarah maupun sejarah.
7.      Numismatic, yaitu ilmu tentang mata uang, asal–usul, tekhnik pembuatan dan mitologi.
8.      Ilmu keramik, yaitu kajian tentang barang–batang untuk tembikar dan porselin.
9.      Genealogi, yaitu pengetahuan tentang asal–usul nenek oyang atau asal mula keluarga seseorang ataupun beberapa keluarga.
10.  Filologi, yaitu ilmu tentang naskah–naskah kuno.
11.  Bahasa, yaitu penugasan tentang beberapa bahasa, baik bahasa asing, maupun bahasa daerah yang diperlukan dalam penelitian sejarah.
12.  statistik, yaitu sebagai presentasi analisis dan interpretasi angka–ngka.
13.  Etnografi, yaitu merupakan kajian bagian antropologis tentang deskripsi dan analisis kebudayaan suatu kebudayaan suatu masyarakat tertentu.
            Dan gray (1964:9 dalam supardan:307) pernah mengemukakan bahwa seorang sejarawan minimal memiliki enam tahap dalam penelitian sejarah.
1.      Memilih suatu topik yang sesuai
2.      Mengusut semua evidensi atau bukti yang relevan dengan topik  yang ditemukan ketika penelitian diadakan.
3.      Membuat catatan–catatan penting dan relevan dengan topik yang ditemukan ketika penelitian diadakan.
4.      Mengevaluasi secara kritis semua evidensi yang telah dikumpulkan atau melakukan kritik sumber secara eksternal dan internal.
5.      Mengusut hasil–hasil penelitian dengan mengumpulkan catatan fakta–fakta secara sistematis.
6.      Menyajikanya dalam suatu cara yang menarik serta mengomunikasikanya kepada para pembaca dengan menarik pula.
4.      Konsep dan Generalisasi Sejarah
            Menurut Banks (1977:99-100) dalam pembuatan generalisasi sejarah dapat dibedakan atas tiga tingkatan
1.      High order generalization, ialah generalisasi yang disebut laws atau principles, yaitu generalisasi yang pemakaianya secara universal.
2.      Intermediate level generalization, ialah gen eralisasi yang digunakan di kawasan tertentu ataupun di daerah kebudayaan tertentu.
3.      Law order generalization yaitu generalisasi yang didasarkna atas data dari dua atau lebih tentang sekelompok masyarakat dari suatu kawasan tertentu yang bersifat local, generalisasi inilah yang paling memungkingkan dibuat dalam sejarah.
Tekhnik Generalisasi yang digunakan
1.      Perubahan
Jika kita hanya mengakui gerak sejarah berdasarkan siklus, maka tidak akan banyak terjadi perubahan–perubahan yang berarti dalam masyarakat, padahal perubahan yang terjadi di masyarakat demikian cepat dan tidak terduga.
2.      Peristiwa
Peristiwa sejarah itu kecendrunganya akan terjadi pengulangan tapi, akan terjadi pula suatu proses kemajuan yang lebih berarti daripada gerak sejarah yang benar – benar hanya bersifat siklus belaka (Al-sharqawi, 1986:147)
3.      Sebab dan Akibat
Munculnya peradaban dilembah sungai Nil (Mesir Kuno) yang bernilai tinggi sebagai khazanah budaya dunia, disebabkan adanya tantangan ynag cukup keras bagi bangsa mesir dan berperannya kaum elite minoritas yang kreatif, akibatnya mereka berupaya untuk merespon tantangan itu dalam bentuk peradaban yang bernilai agung (Lauer,2003:53 dalam supardan:352).
4.      Nasioanalisme
Menurut Jan Romein, gerak kemajuan dan keberlanjutan perubahan sejarah (sosial budaya), tidak dapat disamakn dengan evolusi biologis, melainkan kebalikannya. Mengingat manusia memiliki sejumlah kemampuan akal dan pikiran ssebagai makhluk yang lebih sempurna. Oleh karena itu, dalam dialektika kemajuan perkembangan nasoinalisme pun tidak berjalan secara evolutif, tetapi maju dengan lompatan-lompatan yang diadakan seperti revolusi (Wertheim,1976:95-96 dalam supadan:352)
5.      Kemerdekaan
Menurut Wittfogel, terdapat hubungan yang erat antara berkembangnya budaya hidrolik yang berukuan besar, khususnya system irigasi dengan munculnya struktur sosial yang sentralistik, otokratik, dan birokratik, sebagaimana sering disebut sebagai despotism oriental. Dengan membangun budaya hidrolik tersebut (Wertheim 1976;kapplan dan manners, 1999:95 dalam supardan:352)
6.      Kolonialisme
Merajalelanya kolonialisme barat pada abad ke-19 terhadap Asia, Afrika, dan Amerika Latin, sebenarnya tidak dapat dilepaskan sebagai dampak penemuan-penemuan daerah baru ataupun eksplorasinya trhadap daerah-daerah lain yang belum mereka kenal sebelumnya (Denon, 2010;134 dalam supardan:353)
7.      Revolusi
Revolusi Prancis yang terjadi pada tahun 1789 memiliki dampak besar bagi kemenangan kaum borjuis di Eropa Barat maupun bangkitnya nasionalisme maupun perlawanan terhadap imperialism, khususnya sesama Eropa (Furet dan Richet, 1989:480 dalam supardan:353)
8.      Fasisme
Lahirnya fasisme di Italia maupun Jerman menjelang perang DuniaII, tidak lepas dari pengaruh kriis ekonomi (Malaise) yang sangat parah bagi dunia (Payne, 2000;347 dalam supardan:353).
9.      Komunisme
Makin meluasnya bahaya komunisme di Asia tenggara, mendorong para ahli strategi dan pemikir Amerika Serikat untuk menggagas suatu teori baru yang dikenal dengan teori Domino (supardan,1983:21 dalam supardan:353).
10.  Peradaban
Bebrapa pusat peradaban tertua, Mesir Kuno, Mesopotamia, India Kuno, dan Cina Kuno,pada umumnya lahir ataupun muncul sebagai respon atas tantangan dan kesadaran minoritas kreatif yang terjadi dibeberapa lembah sungai-sungai besar (Toynbee, 1961 dalam supardan:353).
11.  Perbudakan
Ketika kolonialisme dan imperialisme merajalela, system perbudakan dibeberapa wilayah (Afrika, Asia, maupun Amerika Latin)pun berkembang dengan pesat (Ross, 2000:965 dalam supardan:353).
12.  Waktu
Studi tentang waktu dapat berfungsi baik sebagai kerangka eksternal untuk mengukur peristiwa dan proses, menata kesemrawutan terjadinya peristiwa dan proses demi orientasi manusia atau mengkoordinasikan tindakan individu dan social secara kuantitatif yang dinyatakan oleh jam, hari, tnggal, bulan, tahun, dan abad, memungkinkan kita mengenal perbandingan kecepatan, interval, rentangan, dan sebagainya maupun untuk menentukan kerangka internal secara kualitatif yang dinyatakan berlangsung lebih lama atau lebih sebentar, lebih lambat atau lebih cepat, dan sebagainya (Adam, 1990:23 dalam supardan 354)
13.  Feminisme
Teori-teori feminism pada awalnya bersifat interdisipliner yang merangkum beberapa diskriminasi dan ketimpangan social antara pria dan wanita diberbagai bidang sosial budaya, seperti sejarah, filsafat, antropologi, politik, ekonomi, seperti reproduksi, representasi, an pembagian kerja berdasrkan jenis kelamin. Perkembangan selanjutnya yang mencolok adalah munculnya konsep-konsep baru, seperti seksisme dan esensialisme yang dimaksudkan untuk menggugat diskiminasi sosial terhadap ilmu pengetahuan yang berkembang (Humm, 2000;354 dalam supardan;354)
14.  Liberalisme
Secara metodologis, liberalism meragukan penjelasan teori-teori holistic ataupun kolektivisme.Mereka lebih mengasosiasikan gerakan-gerakan laissez-fire dan menolak intervensi pemerintah serta implikasi-implikasi moral yang mengharuskan memerintahkan yang lemah. Selain itu, mesti tidak menyangkal legitimasi dan prosedur-prosedur demokratis, kaum liberal tidak bersedia mempertaruhkan makna hakiki individu dengan membuka pintu dengan selebar-lebarnya pada kekuatan mayoritas (Barry, 2007:571 dalam supardan:354)
15.  Konservatisme
Pad umunya, pengikut konservatisme adalah orang tua yang sudah memiliki pandangan dan sikap mapan mengenai apa yang harus diutamakan dalam hidup. Aliran ini menjungjung tinggi sopan santun, meskipun hal itu masih irasional karena hal-hal tersebut masih dianggap sebagai jangkar yang akan mencegah seseorang bertindak semaunya. Oleh karena itu, daya tarik konservatisme di Inggris sampai sekarang masih luas, khusunya bagi “golongan tua” tetap besar. Mereka beranggapan bahwa suatu masyarakat yang tidak memiliki elmen konservatisme, disatu sisi tidak akan bertahan lama, walaupun bagi banyak orang disisi lain dapat dianggap stagna (Minogue, 2000:167 dalam supardan:354)
Sedangkan, menurut Louis Gottschalk (1963) terdapat 6 kategori generalisasi dalam penulisan sejarah, yaitu:
l. Aliran unik "the school of unique". Tujuan sejarah harus mengemukakan perbedaan daripada persamaan.
2. Aliran generalisasi terbatas yang sangat ketat "school of the strictly limited generalization" yaitu sejarawan yang murni deskriptif naratif.
3. Aliran generalisasi atas dasar trer/ arah gejala- "the school generalization on the bassis of trens" sejarawan interpretative- mengemukakan beberapa hipotesis dari teori yang dapat membantu menjelaskan sejumlah peristiwa - peristiwa sejarah yang berkaitan.
4. Aliran generalisasi atas dasar perbandingan- "the school generalization on the bassis of comparison" - comparative historian.
5. Aliran generalisasi yang berlakuuntuk prediksi dan control- "the school of
generalization that have validity for prediction and control". i.e nomothetic historian
7.      Aliran filsafah sejalah kosrnis, "the school of cosmis philosophies of history". i.e the philosophers history.
5.      Teori-Teori Sejarah
       Teori merupakan unsure yang sanagat esensial dalam kajian tentang suatu fenomena, baik pada masa lalu maupun masa sekarang.Namun, untuk ilmu sejarah kedudukan teori meni8mbulkan perdebatan sengit, terutama antara aliranempirismedan idealism, khusunya mengenai penerapan hokum umum (general law) dan teori generalisasi (generalizing theory). Menurut golongan idealis, terutama Neo-Kantian , seperti Wilhelm Dilthey, Henrich Rickert, dan R.G Collingwood, gahwa ilmu–ilmu alam (natural science) berbeda dengan kajian–kajian manusia (human studies) juga di dalamnya termasuk humaniora.
1.   Teori Gerak Sejarah Ibnu Khaldun
       Ibnu khaldun (1332-1406) adalah seorang sejarawan dan filsuf sosial islam kelkahiran tunisia yang merupakan penggagas pertama dalam teri siklus ini, khusunya dalam sejarah pemikiran manusia, terutama dsari dimensi sosial dan filosofis pada umumnya. Karya monumentalnya adalah Al-Muqaddimah (1284 H) yang secara orisinal dan luas membahas kajian sejarah, budaya dan sosial.
       Adapun inti atau pokok–pokok pikiran dalam teori Khaldun tersebut dikemukakan dalam Al-Muqaddimah sebagai berikut.
a.       Kebudayaan adalah masyarakat manusia yang memiliki landasan di atas hubungan manusia dan tanah di satu sisi dan hubungan manusia dengan manusia lainya di sisi lain yang menimbulkan upaya mereka untuk memecahkan kesulitan–kesulitan lingkungan serta mendapatkan kesenangan dan kecukupan dengan membangun industri, menyusun hukum, dan menertibkan transaksi.
b.      Bahwa kebudayaan dalam berbagai bangsa berkembang melalui empat fase, yaitu fase primitif atau nomaden, fase urbanisasi, fase kemewahan, dan fase kemunduran yang menghantarkan kehancuran
c.       Kehidupan fase primitif atau nomaden adalah bentuk kehidupan manusia terdahulu (tertua) yang pernah ada. Pada masa ini, sifat kehidupan kasar yang diwarnai oleh keberanian dan ketangguhan mendorong mereka untuk menundukan kelompok – kelompok lain. Selain itu, pada masa ini pun pada kelompok – kelompok tersebut tumbuh solidaritas, ikatan, dan persatuan yang menopang mereka meraih kekuasaan dan kesenangan
d.      Dalam fase urbanisasi, pembangunan yang mereka lakukan tetap berlangsung sehingga perkembangan kebudayaan semakin maju, khusunya di kota-kota.
e.       Pada fase kemewahan, banyak kelompok yang tenggelam dalam masa kemewahan, di mana pada fase ini dicirikan oleh beberapa indikator.
f.       Pada fase kemunduran, kerajaan dan pemerintahan melalaikan urusan kenegaraan/pemerintahan dan kemasyarakatan yang mempercepat kehancuran, ditandai dengan ketidakmampuan dalam mempertahankan diri. Ini pertanda bahwa usainya daur kultural dalam sejarahnya dan bermulanya daur baru (Al-Sharqawi, 1886; 145-146).
g.      Biasanya kelompok–kelompok yang terkalahkan akan selalu mengekor kepada kelompok–kelompok yang menang, baik dalam slogan, pakaian, kendaraan, maupun tradisi lainya

2.      Teori Daur Kultural Spiral Giambattista Vico
              Nama filsuf sejarah italia, Giambattista vico (1668-1744) memang jarang dikenal, padahal jasanya begitu besar, terutama dalam teorinya tentang gerak sejarah ibarat daur kultural spiral yang dimuat dalam karyanya The New Science (1723) yang telah diterjemahkan Downs tahun 1961. Atau mungkin karena teorinya yang sering diidentikkan dengan teori siklus, di mana nama–nama besar tokoh lainya, melebihi bayangan nama besarnya.
       Secara makro, pokok–pokok pikiran Vico yang tertuang dalam teori daur spiralnya dalam The New Science adalah seperti berikut
a.       Perjalanan sejarah bukanlah seperti roda yang berputar mengitari dirinya sendiri sehingga memungkinkan seorang filsuf meramalkan terjadinya hal yang sama pada masa depan.
b.      Sejarah berputar dalam gerakan spiral yang mendaki dan selalu memperbaharui diri.
c.       Masyarakat manusia bergerak melalui fase–fase perkembangan tertentu dan terjalin erat dengan kemanusiaan yang dicirikan oleh gerak kemajuan dalam tiga fase, yaitu fase teologis, fase herois, dan fase humanistis.
d.      Ide kemajuan adalah substansial, mesti tidak melalui satu perjalanan luruske depan, tetapi bergerak dalam lingkaran–lingkaran historis yang satu sama lain saling berpengaruh.
3.      Teori Tantangan dan Tanggapan Arnold Toynbee
              Arnold Toynbee (1889-1975) adalah seorang sejarawan inggris, ia adalah pendukung teori siklus lahir-tumbuh-mandek-hancur. Seperti halnya khaldun yang dikenal sebagai “jenius arab”, Toynbee melihat bahwa proses siklus lahir-tumbuh-mandek-hancur suatu kehidupan sosial, lebih ditekankan pada masyarakat atau peradaban sebagai unit studinya yang lebih luas dan komprehendif daripada studi tentang sesuatu bangsa maupun periode tertentu. Karyanya adalah A Study of History .pokok–pokok pikiran dari teori tantangan dan tanggapan (challenge and response) tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.
a.    Menurut toynbee, terdapat 21 pusat peradaban di dunia, misalnya peradaban Mesir kuno, india, sumeria, Babilonia, dan peradaban barat atau kristen. Enam peradaban muncul serentak dari masyarakat primitif yang berasal dari mesir, sumeria, cina maya, minoa, dan india. Masing–masing muncul secara terpisah dari yang lain dan terlihat di kawasan luas yang terpisah. Semua peradaban lain berasal dari enam peradaban asli itu. Sebagai tambahan, sudah ada tiga peradaban gagal, yaitu peradaban kristen barat jauh, kristen timur jauh, dan skandinavia, dan lima peradaban yang masih bertahan, yaitu polinesia, eskimo, nomadik, ottoman, dan spartan.
b.   Peradaban muncul sebagai tanggapan atas tantangan, walaupun bukan atas dasar murni hukum sebab akibat, melainkan hanya sekedar hubungan, dan hubungan itu dapat terjadi antara manusia dan alam, atau antara manusia dan manusia.
c.    Sebagai contoh, peradaban mesir muncul sebagai hasil tanggapan yang memasai atas tantangan yang berasal dari rawa dan hutan belantara lembah sungai nil, sedangkan peradaban lain muncul dari tantangan konflik antarkelompok.
d.   Berjenis–jenis tantangan yang berbeda dapat menjadi tantangan yang diperlukan bagi kemunculan suatu peradaban.
e.    Terdapat lima kawasan perangsang yang berbeda bagi kemunculan peradaban, yakni kawasan ganas, baru, diperebutkan, ditindas, dan tempat pembuangan.
f.    Kawasan ganas mengacu kepada lingkungan fisik yang sukar ditaklukan. Kawasan diperebutkan, termasuk yang baru ditaklukan dengan kekuatan militer. Kawasan tertindas, menunjukan suatu situasi ancaman dari luar yang berkepanjangan. Kawasan hukuman/pembuangan, mengacu kepada kawasan tempat kelas dan ras yang secara historis telah menjadi sasaran penindasan, diskriminasi, dan eksploitasi.
g.   Antara tantangan dan tanggapan berbentuk kurva linear
h.   Untuk terciptanya suatu tanggapan yang memadai, kriteria pertama adalah keras atau lunaknya tantangan. Kriteria kedua, kehadiran elite kreatif yang akan memimpin dalam memberikan tanggapan atas tantangan itu.
4.      Teori Dialektika Kemajuan Jan Romein
              Jan Marius Romein adalah  teoretesi dan sejarawan  Belanda (1893-1962) yang pertama kalinya elihat gejala lompatan dalam sejarah umat manusia sebagai suatu kecendrungan umum dalam kemajuan maupun keberlanjutan. Pikiran-pikiran Jan Romein ini dituangkan dalam Dialektika Kemajuan atau De Dialektikek Van De Vooruitgang:Bijdrage tot het ontwikkelingsbegrip in de geschiendenis (1935). Adapun pokok–pokok pikiran teori Jan Romen tersebut ialah sebagai berikut.
a.       Gerak sejarah umat manusia itu kebalikan dari perkembangan secara berangsur–angsur (evolusi), melainkan maju dengan lompatan–lompatan yang sebanding dengan mutasi yang dikenal dalam dunia alam hidup biologis.
b.      Suatu langkah baru dalam evolusi manusia, kecil kemungkinannya terjadi dalam masyarakat yang telah mencapai tingkat kesempurnaan yang tinggi dalam arah tertentu.
c.       Dengan demikian, keterbelakangan dalam hal–hal tertentu dapat dijadikan sebagai suatu keunggulan (situasi yang menguntungkan) untuk mengejar ketinggalanya. Sebaliknya, kemajuan yang relative pesat di masa lalu dapat berlaku sebagai penghambat kemajuan. Inilah yang dinamakan Dialektika Kemajuan.

5.      Teori Despotisme Timur Wittfogel
 Karl Wittfogel, penulis buku Oriental Despotism (1957) mengemukakan teori–teorinya sebagai berikut.
a.       Cara produksi Asiatis, menurut pendapatnya yang khas pada masyaraka-masyarakat yang berdasarkan irigasi besar–besaran, telah menimbulkan suatu garis lain dalam perspektif evolusi.
b.      Masyarakat–masyarakat hidrolis, tidak hanya dicirikan oleh irigasi, tetapi dalam hal-hal tertentu oleh bangunan drainase besar–besaran adalah tipikal despotime timur yang menjalankan perintah dengan kekuasaan total oleh suatu birokrasi yng bercabang luas dan berpusat, serta secara tajam mesti dibedakan dari masyarakat feudal, seperti dikenal dalam masyarakat di Eropa Barat dan Jepang.
c.       Bila masyarakat–masyarakat feudal memungkinkan suatu perkembangan menuju kapitalisme borjuis maka birokrasi–birokrasi Asiatis itu sama sekali tidak cocok bagi perkembangan apapun menuju suatu struktur yang lebih modern.
d.      Struktur–struktur politik baru yang dilahirkan di kerajaan–kerajaan despotis Timur di masa lalu (Rusia dan Cina), sebenarnya tidak dapat dipandang sebagai suatu subtype dari suatu masyarakat modern atau sebagai sesuatu yag baru, melainkan hanya merupakan salinan–salinan dari despotism timur tradisional, di mana kemungkinan–kemungkinan untuk menjalankan kekuasaan mutlak dan terror, telah berkembang hingga tingkat yang luar biasa tingginya (Wittfogrl, 1957:366-367)
e.       Doktrin ini bermaksud menunjukan bahwa uni soviet maupun Cina tidak dapat menawarkan apapun yang mungkin diinginkan oleh bangsa–bangsa lain, jaln satu–satunya kea rah kemajuan adalah mengikuti garis peradaban modern yang berdasarkan hak milik.
                                                                   
6.      Teori Perkembangan Sejarah dan Masyarakat Karl Marx
Karl Heinrich Marx (1818-1883) dilahirkan di Trier, Prusian Rhineland pada 5 mei 1818. Ia berasal dari silsilah panjang rabbi, baik garis ayah maupun ibunya. Ayahnya adalah seorang pengacara terhormat, ia menikah dengan Jenny anak tokoh sosialis awal Baron van Weshpalen. Masuk Universitas Bonn, tahun berikutny pindah ke University of Berlin.
              Teorinya tentang gerak sejarah dan masyarakat, tertuang dalam Die Deutch Ideologie (ideologi Jerman) tahun 1845–1846, secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut.
a.       Struktur ekonomi asyarakat yang ditopang oleh relasi–relasinya dengan produksi, merupakan fondasi riil masyarakat. Struktur tersbut sebagai dasar munculnya suprastruktur hokum dan politik, berkaitan  dengan bentuk tertentu dari kesadaran sosial. Di sisi lain, relasi- relasi produksi masyarakat itu sendiri dengan tahap perkembangan tenaga–tenaga produktif materiil akan mempersiapkan proses kehidupan sosial, politik, dan intelektual pada umumnya.
b.      Seiring dengan tenaga produktif masyarakat berkembang, tenaga–tenaga produktif ini mengalami pertentangan dengan berbagai relasi produksi yang ada sehingga membelenggu pertumbuhanya. Kemudian, mulailah suatu era revolusi sosia, seiring dengan terpecahnya masyarakat akibat konflik.
c.       Konflik itu terseesaikan sedemikian rupa sehingga menguntungkan tenaga–tenaga produktif, lalu muncul relasi–relasi produksi yang baru dan lebih tinggi yang persyaratan materiilnya telah matang dalam “rahim” masyarakat itu sendiri
d.      Relasi–relasi produksi yang lebih baru dan lebih tinggi ini mengakomodsi secara lebih baik keberlangsungan pertumbuhan kapasitas produksi masyarakat. Di sinilah model produksi borjuis mewakili era progresif yang paling baru dalam formasi ekonomi masyarakat, tetapi hal itu merupakan bentuk produksi antagonistic yang terakhir. Dengan matinya bentuk produksi tersebut, maka prasejarah kemanusiaan telah berakhir.
e.       Di sinilah kapitalisme akan hancur oleh hasratnya sendiri untuk meletakkan masyarakat pada tingkat produktif yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Selain itu, perkembangan tenaga–tenag produktif yang membayangkan munculnya kapitalisme sebagai respons terhadap tingkat tenaga produktif pada awal mula terbentk.
f.       Dengan demikian, perkembangan kapasitas produktif masyarakat menetukan corak utama evolusi yang dihasilkan, yang pada giliranya menciptakan institusi–institusi hokum dan politik masyarakat atau suprastruktur.
7.      Teori Feminisme Wollstonecraft
          Mary Wollstonecraftt dilahirkan di inggris tahun 1759. Ia adalah orang miskin yang berasal dari keluarga “berantakan” . salah satu karyanya yang paling terkenal adalah A Vindication of the Rights Woman (1792), menyusul 2 tahun setelh memperoleh citra buruk atas karya sebelumnya.
Isi pokok pemikiran (teori) Wollstonecraft adalah sebagi berikut:
a.       Salah satu cirri yang paling universal sekaligus mencolok adalah subordinasi wanita atas pria. Sekalipun saat ini banyak kemajuan–kemajuan politik dan budaya yang diperolehnya, wanita tetap ditempatkan pada kelas kedua.
b.      Dalam beberapa segi, hal itu disebabkan oleh kaum wanita itu sendiri yang erprasangka buruk terhadap kapabilitas bakatnya sendiri, sebuah pandangan yang diajukan oleh banyak penulis dan pemikir pembenci wanta.
c.       Padahal pria dan wanita sama–sama mampu bernalar dan memperbaiki diri.
d.      Masyarakat dan kaum pria telah membatasi kesempatan–kesempatan yang dimiliki wanita untuk menggunakan kemampuan alamnya bagi kebaikan masyarakat.
e.       Keluhuran–keluhuran jinak dan kesenangan–kesenangan hampa telah mendorong kaum wanita berfokus pada penyanjungan dan penyenangan pria yang dapat menjauhkan wanita untuk berkontribusi pada kehidupan moral, budaya, dan politik.
f.       Wanita tidak boleh memiliki status inferior, sekalipun penyebabnya oleh kaum wanita itu sendiri yang begitu pasrah menerima citra mereka yang tidak menguntungkan diri.
g.      Semakin baik pendidikan mereka, semakin baik wanita menjadi warga Negara, istri, dan ibu. Wanita terdidik adalah orang–orang yang lebih rasional dan lebih luhur.

6.      Permasalahan dalam Ilmu Sejarah
Permasalahan dalam sejarah, yang kami angkat pada makalah ini adalah tentang peristiwa gerakan 30 Sepetember (G30S / GESTAPU) yang selalu diidentikan dengan gerakan kudeta dari kelompok Partai Komunis Indonesia (PKI). Dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai dengan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), pengajaran dari para guru sejarah selalu mengidentikan peristiwa Gerakan 30 September ini begitu diidentikan dengan kelompok PKI, sehingga munculah singkatan G30S/PKI. Padahal, dari beberapa sumber buku yang pernah saya baca, paling tidak ada beberapa faktor penyebab terjadinya gerakan pembantaian terhadap beberapa perwira tinggi angkatan darat, selain faktor dari PKI sendiri tentunya. Yaitu diantaranya adanya angkatan kelima, beredarnya isu tentang kondisi Presiden Soekarno yang mengalami sakit, isu tentang masalah tanah dan bagi hasil, faktor Malaysia, Faktor Amerika Serikat, sampai dengan faktor ekonomi.
Banyak juga pihak yang dianggap terlibat dalam peristiwa berdarah ini, mulai dari isu keterlibatan Soekarno, sampai juga isu keterlibatan Soeharto.
7.      Cara Pemecahan Masalah dalam Ilmu Sejarah
Menurut kelompok kami, salah satu cara pemecahan masalah dalam menghadapi polemik tentang siapa yang paling berperan dalam peristiwa 30 September adalah para pendidik dan para orang tua menjelaskan peristiwa ini kepada para peserta didik tanpa harus mengidentikan dengan sebuah kelompok, mungkin akan terdengar susah bagi para peserta didik di tingkat dasar untuk dapat menganalisis sendiri suatu kejadian. Namun, menurut saya ini adalah salah satu cara untuk mengubah pandangan akan keidentikan suatu peristiwa dengan kelompok tertentu.
8.      Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat kami tarik dari keseluruhan makalah ini adalah: Sejarah adalah peristiwa yang terjadi pada masa lalu yang terus berkesinambungan.Sedangkan ilmu sejarah adalah ilmu yang digunakan untuk mempelajari peristiwa penting masa lalu manusia.Ruang lingkup ilmu sejarah terbagi kedalam 3 baian yaitu sejarah sebai peristiwa, sejarah sebagai ilmu, dan sejarah sebagai cerita.
Metode sejarah menurut ismaun (1993;125-131 dalam supardan:307) ada 4 macam, diantaranya heuristik (pengumpulan sumber-sumber), kritik atau analisis sumber (eksternal dan inernal), interpretasi, historiografi (penulisan sejarah). Sedangkan ilmu bantu sejarah yaitu paleontologi, arkeologi, paleoantropologi, paleografi, epigrafi, ikonografi, numismatik, imu keramik, genealogi, filologi, bahasa, statistik, dan etnografi.
Tujuan sejarah diantaranya fungsi edukatif, fungsi inspiratif, fungsi inspiratif, dan fungsi rekrasi.Diantara kegunaan sejarah yaitu guna intrinsic, guna ekstrinsik dan guna perencanaan atau penilaian.
Sejarah perkembangan sejarah, pada awalnya kemunculan ilmu sejarah, sejarah hanya terpusat mengenain cerita tentang politik di masa lalu, dan membahas tentang peranan-peranan orang-oh sekarang mencakup orang besar.Namun sekarang sejarah tidak lagi terpusat kepada hal-hal itu, sejarah kini membahas tiap-tiap aspek masa lalu yang terjadi pada manusia, dan bukan hanya orang-orang besar yang dibahas, namun siapa saja bisa menjadi objek dalam sejarah.
Hubungan ilmu sejarah dengan ilimu-ilmu sosial lainnya yaitu hubungan sejarah dengan ilmu sosiologi, hubungan sejarah dengan antropologi, hubungan antropologi budaya dengan sejarah, hubungan sejarah dengan psikologi, hubungan sejarah dengan geografi, hubungan sejarah dengan ilmu ekonomi, dan hubungan sejarah dengan ilmu politik.
Menuju rapprochement sejarah dengan ilmu social lainnya yaitu sejarah yang pada awalnya menjadi bagian dari ilmu-ilmu humaniora, lalu dalam perjalananya mendekat kepada ilmu-ilmu social, proses mendekatnya sejarah inilah yang disebut dengan rapprochement.
Konsep-konsep sejarah diantaranya ada perubahan, peristiwa, sebab dan akibat, nasionalisme, kemerdekaan atau kebebasan, kolonialisme, revolusi, fasisme, komunisme, peradaban, perbudakan, waktu, feminisme, liberalisme, dan konservatisme.
Pembuatan generalisasi terdapat 3 tingkatan yaitu high order generalization, intermediate level generalization dan law order generalization.Sedangkan yang digunakan disini adalah perubahan, peristiwa, sebab dan akibat, nasionalisme, kemerdekaan, kolonialisme, revolusi, fasisme, komunisme, peradaban, perbudakan, waktu, feminisme, liberalisme, dan konservatisme.
Teori-teori sejarah diantaranya teori gerak siklus sejarah ibnu khaldun, teori daur kultural spiral giambattista vico, teori tantangan dan tanggapan Arnold Toynbee, teori dialektika kemajuan jan romein, teori depotisme timur wittfogel, dan teori perkembangan sejarahdan masyarakat karl marx.













DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman,D. (2007). Metodologi Penelitian sejarah. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.
Gottschalk,L. (1975). Mengerti Sejarah. Bandung: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia
Poerwananta, PK. Hugiono. (1992). Pengantar Ilmu Sejarah.Jakarta: PT. Rineka Cipta

Rennison, Louis.(2005). Saksi dan pelaku Gestapu: pengakuan para saksi dan pelaku sejarah Gerakan 30 September 1965. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Sapriya. Sadjarudin Nurdin. (2008). Konsep Dasar IPS. Bandung: Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan Jurusan Pkn FPIPS.
Supardan, Dadang. (2008). Pengantar Ilmu Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar