Selasa, 29 Januari 2013

masyarakat perkotaan dan pedesaan


BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Masyarakat
Masyarakat (yang dalam bahasa inggris disebut dengan society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.
Manusia merupakan makhluk yang memiliki keinginan untuk menyatu dengan sesamanya serta alam lingkungan di sekitarnya. Dengan menggunakan pikiran, naluri, perasaan, keinginan dsb manusia memberi reaksi dan melakukan interaksi dengan lingkungannya. Pola interaksi sosial dihasilkan oleh hubungan yang berkesinambungan dalam suatu masyarakat.
Berikut di bawah ini adalah beberapa pengertian masyarakat dari beberapa ahli sosiologi dunia.
1. Menurut Selo Sumardjan: masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
2. Menurut Karl Marx: masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.
3. Menurut Emile Durkheim: masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.
4. Menurut Paul B. Horton & C. Hunt: masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut.
Menurut Soerjono Soekanto alam masyarakat setidaknya memuat unsur sebagai berikut ini :
1.    Beranggotakan minimal dua orang
2.    Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan
3.    Berhubungan dalam waktu yang cukup lama yang menghasilkan manusia baru yang saling berkomunikasi dan membuat aturan-aturan hubungan antar anggota masyarakat.
4.    Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat.

2.2  Masyarakat Pedesaan
A. Pengertian Desa Atau Pedesaan
Berikut ini definisi-definisi Desa yang dikemukakan beberapa ahli :
1.  Sutardjo Kartohadikusuma
Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan sendiri.
2. Bintarto
Desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi, sosial, ekonomi, politik, dan kultural yang terdapat di suatu daerah, dalam hubungannya dan pengaruhnya secara timbal-balik dengan daerah lain.
3. Paul H. Landis
Desa adalah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa.
Ciri-ciri umumnya sebagai berikut :
a)      Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
b)      Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan.
c)      Cara berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam, seperti : iklim, keadaan alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan
d)      Sistem kehidupannya berkelompok
e)      Termasuk kedalam masyarakat homogen dalam hal mata pencaharian, agama, adat-istiadat
f)       Homogenitas Sosial
g)      Hubungan primer
h)      Kontrol sosial yang ketat
i)        Gotong-royong
j)        Ikatan sosial
k)      Magis religius
Dalam UU No. 5 Tahun 1979, disebutkan pengertian desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat dan hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
B. Hakikat dan Sifat Masyarakat Pedesaan
Menurut Ferdinand Tonies, “Masyarakat pedesaan adalah masyarakat gemeinschaft (paguyuban), dan paguyubanlah yang menyebabkan orang-orang kota menilai sebagai masyarakat itu tenang harmonis, rukun dan damai dengan julukan masyarakat yang adem ayem.” Tetapi sebenarnya didalam masyarakat pedesaan kita ini telah mengenal bermacam-macam gejala, diantaranya sebagai berikut:
a) Konflik (pertengkaran) : Pertengkaran yang terjadi biasanya berawal dari masalah sehari-hari dalam rumah tangga yang akibatnya sering menjalar keluar rumah tangga. Sedangkan sumber pertengkaran itu rupa-rupanya berkisar pada masalah kedudukan, gengsi, perkawinan, dan sebagainya.
b) Kontroversi (pertentangan) : Pertentangan ini bisa disebabkan oleh perubahan konsep-konsep kebudayaan (adat-istiadat), psikologi atau dalam hubungannya dengan guna-guna (black magic).
c) Kompetisi (persaingan) : Masyarakat Pedesaan adalah manusia yang mempunyai sifat-sifat sebagai manusia biasa dan mempunyai saingan dengan manifestasi sebagai sifat ini. Oleh karena itu maka wujud persaingan itu bisa positif dan bisa negatif.
d) Kegiatan pada Masyarakat Pedesaan : Masyarakat pedesaan mempunyai penilaian yang tinggi terhadap mereka yang dapat bekerja keras tanpa bantuan orang lain, jadi jelas bahwa masyarakat pedesaan bukanlah masyarakat yang senang diam tanpa aktivitas. Contoh konkrit orang yang bekerja keras dipedesaan diantaranya, petani. Menurut Mubiyanto petani di Indonesia mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
         a) Petani itu tidak kolot
          b) Narimo (menyerah kepada takdir)

C. Sistem Nilai Budaya Petani Indonesia:
a) Pada dasarnya para petani menganggap bahwa hidupnya itu sebagai sesuatu hal yang buruk, penuh dosa, kesengsaraan. Tetapi mereka menyadari bahwa keburukan harus dihadapi sebaik-baiknya dengan penuh usaha dan ikhtiar.
b) Mereka beranggapan bahwa bekerja untuk hidup dan kedudukan jika perlu.
c) Mereka berorientasi masa sekarang, kurang memperdulikan masa depan dan berharap datangnya kembali sang ratu adil yang membawa kekayaan bagi mereka.
d) Mereka menganggap bencana harus diterima dan menyesuaikan diri dengan alam, kurang adanya usaha untuk menguasainya.
e) Untuk menghadapi masalah mereka bergotong-royong dalam menyelesaikannya.
D. Unsur-unsur Desa
Desa mempunyai beberapa unsur diantaranya :
a) Daerah, merupakan luas dan batas lingkungan geografis setempat.
b) Penduduk, hal yang meliputi jumlah pertambahan, kepadatan, persebaran dan mata pencaharian penduduk desa setempat.
c) Tata kehidupan, menyangkut seluk-beluk kehidupan masyarakat desa.
E. Fungsi Desa
1. Sebagai suatu daerah pemberian bahan makanan pokok seperti padi, jagung, ketela, disamping bahan makanan lain seperti kacang, kedelai, buah-buahan, dan bahan makanan lain yang berasal dari hewan.
2. Sebagai lumbung bahan mentah dan tenaga kerja.
3. Dari segi kegiatan kerja desa dapat merupakan desa agraris, desa manufaktur, desa industri, desa nelayan, dan sebagainya.
Dari definisi tersebut, sebetulnya desa merupakan bagian vital bagi keberadaan bangsa indonesia. Dikatakan vital, karena desa merupakan satuan terkecil dari bangsa ini yang menunjukkan keragaman Indonesia. Selama ini terbukti keragaman tersebut telah menjadi kekuatan penyokong bagi tegak dan eksisnya bangsa. Hampir semua kebijakan pemerintah yang berkenaan dengan pembangunan desamengedepankan sederet tujuan mulia, seperti mngentaskan rakyat miskin, mengubah wajah fisik desa, meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat, memberikan layanan sosial desa, hingga memperdayakan masyarakat dan membuat pemerintah desa menjadi lebih modern.
Sayangnya, tujuan-tujuan tersebut belum dapat terealisasikan, karena uang yang digunakan tersebut disalah gunakan oleh orang yang melaksanakan pembangunan di desa, seperti pejabat kabupaten, provinsi, bahkan pusat. Pedesaan juga berperan dalam mengangkut produksi pangan yang akan menentukan tingkat kerawanan dalam jangka pembinaan ketahanan nasional. Oleh karena itu, peranan masyarakat pedesaan dalam mencapai sasaran swasembada pangan adalah sangat penting sekali, bahkan bersifat vital.
F. Ciri- ciri masyarakat desa
Menurut Talcot Parsons (Individu Dan Masyarakat 2010:60) menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mengenal sebagai ciri- ciri sebagai berikut:
a.       Afektifitas, ada hubungannyadengan perasaan kasih sayang , cinta, kesetiaan, dan kemesraan. Perwujudan dari sikap tolong menolong terhadap orang lain yang menyatakan simpati.
b.      Orientasi kolektif, sifat ini merupakan konsekuensi dari afektifitas, yaitu mereka yang mementingkan kebersamaan, tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, initnya semua harus memperlihatkan keseragaman.
c.       Partikularisme, pada dasarnya adalah semua hal yang berlaku khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, persamaan kebersamaan hanya berlaku pada kelompok tertentu.
d.      Askripsi, yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha atau tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.
e.       Kekabaran (diffuseness) sesuatu yang tidak jelas terutama hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakatdesa menggunakan bahasa tidak langsung untuk menunjukan sesuatu.
Dari uraian pendapat Taclott Parson dapat terlihat pada masyarakat desa yang masih murni masyarakatnya.
Adapun ciri yang menonjol pada masyarakat desa antara lain pada umumnya kehidupannya tergantung pada alam (bercocok tanam) anggotanya saling mengenal, sifat gotong royong erat penduduknya sedikit perbedaan penghayatan dalam kehidupan religi lebih kuat.
1. Lingkungan dan Orientasi Terhadap Alam
Desa berhubungan erat dengan alam, ini disebabkan oleh lokasi geografis di daerah desa petani, realitas alam ini sangat vital menunjang kehidupannya. Kepercayaan-kepercayaan dan hukum-hukum alam seperti dalam pola berfikir dan falsafah hidupnya menentukan.
2. Dalam Segi Pekerjaan/Mata Pencaharian
Umumnya mata pencaharian daerah pedesaan adalah bertani, sedangkan mata pencaharian berdagang merupakan pekerjaan sekunder sebagian besar penduduknya bertani.
3. Ukuran Komunitas
Komunitas pedesaan biasanya lebih kecil dan daerah pedesaan mempunyai penduduk yang rendah kilo meter perseginya.
4. Kepadatan Penduduknya
Kepadatan penduduknya lebih rendah, biasanya kelompok perumahan yang dikelilingi oleh tanah pertanian udaranya yang segar, bentuk interaksi sosial dalam kelompok sosial menyebabkan orang tidak terisolasi.
5. Diferensiasi Sosial
Pada masyarakat desa yang homogenitas, derajat diferensiasi atau perbedaan sosial relatif lebih rendah.
6. Pelapisan Sosial
Masyarakat desa kesenjangan antara kelas atas dan kelas bawah tidak terlalu besar.
7. Pengawasan Sosial
Masyarakat desa pengawasan sosial pribadi dan ramah tamah disamping itu kesadaran untuk mentaati norma yang berlaku sebagai alat pengawasan sosial.
8. Pola Kepemimpinan
Menentukan kepemimpinan di daerah cenderung banyak ditentukan oleh kualitas pribadi dari individu. Disebabkan oleh luasnya kontak tatap muka dan individu lebih banyak saling mengetahui. Misalnya karena kejujuran, kesolehan, sifat pengorbanannya dan pengalamannya.

2.3 Masyarakat Perkotaan

1.      Pengertian kota menurut para ahli:
a.Wirth
kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya.
b. Max Weber
kota menurutnya, apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya dipasar lokal.
c. Dwigh Sanderson
kota ialah tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih.
2.      Ciri-ciri kota menurut Talcott Parsons:
a)      Netral Afektif
Masyarakat kota memperlihatkan sifat yang lebih mementingkan Rasionalisme dan sifat rasional ini erat hubungannya dengan konsep Gesellschaft atau Association. Mereka tidak mau mencampuradukan hal-hal yang bersifat emosional atau yang menyangkut perasaan pada umumnya dengan hal-hal yang bersifat rasional, itulah sebabnya tipe masyarakat itu disebut netral dalam persaannya.
b)      Orientasi Diri
Manusia dengan kekuatannya sendiri harus dapat mempertahankan dirinya sendiri, pada umumnya dikota tetengga itu bukan orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan kita oleh Karena itu setiap orang dikota terbiasa hidup tanpa menggantungkan diri pada orang lain, mereka cenderung untuk individualistic.
c)      Universalisme
Berhubungan dengan semua hal yang berlaku umum, oleh karena itu pemikiran rasional merupakan dasar yang sangat penting untuk Universalisme.
d)     Prestasi
Mutu atau prestasi seseorang akan dapat menyebabkan orang itu diterima berdasarkan kepandaian atau keahlian yang dimilikinya.
e)      Heterogenitas
Masyarakat kota lebih memperlihatkan sifat Heterogen, artinya terdiri dari lebih banyak komponen dalam susunan penduduknya.

Ciri-ciri masyarakat modern
Ada beberapa cirri yang menonjol pada masyarakat perkotaan, yaitu :
a)      Kehidupan keagamaannya berkurang, kadangkala tidak terlalu dipikirkan karena memang kehidupan yang cenderung kearah duniaan saja.
b)      Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain (individualism).
c)      Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
d)     Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota.
e)      Jalan kehidupan yang cepat di kota-kota, mengakibatkan pentingnya factor waktu bagi warga kota, sehingga pembagian waktu yang teliti sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan-kebutuhan seorang individu.
f)       Perubahan-perubahan tampak nyata dikota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar.

2.5 Hubungan Desa-Kota, hubunganperdesaan-perkotaan
Masyarakat pedesaan  dan perkotaan bukanlah dua komunitas yang terpisahkasamasekalisatusama yang lain. Bahkandalamkeadaan yang wajar diantara keduanya memliki hubungan yang sangat erat, bersifat ketergantungan karena diantara mereka saling membutuhkan satusama lain. Misalnya orang kota sangat tergantung dalam memenuhi kebutuhan pangan sepertisayur, daging dan ikan. “Interface” dapat diartikan sebagai adanya kawasan perkotaan yang tumpang-tindih dengan kawasan perdesaan, persoalan itu sangat sederhana karena telah ada transportasi, pelayanankesehatan, fasilitas pendidikan, pasardan lain sebagainya.Namun sekarang batas-batas desa dan kota sudah mulai samar. Konsep kota bias muncul di daerah perdesaan dan sebaliknya konsep desa dapat muncul di perkotaan. Warga kota tergantung kedesa, warga perdesaan bias tergantung keperkotaan. Sebagian besar hubungan desa-kota yang terjadi selama ini diwarnai oleh motif-motif eksploitatif sehingga warga perdesaan mengalami proses pemiskinan. Karenaitu, warga desa dan kota perlumelakukan pembangunan kembali membangun hubungan mereka secara setara agar tercipta hubungan yang lestari.
                Secara teoristik, kota merubah atau paling mempengaruhi desa melalui beberapa cara, seperti:
Ekspansi kota ke desa, atau boleh dibilang perluasan kawasan perkotaan dengan merubah atau mengambil kawasan perdesaan. Ini terjadi di semua kawasan perkotaan dengan besaran atau kecepatan yang beranekaragam;
Invasi kota, pembangunan kota baru misalnya banyak kota baru di Jakarta yang merubah perdesaan menjadi perkotaan yang berdampak kepada sifat kedesaan lenyap atau hilang dan sepenuhnya diganti oleh perkotaan;
Penetrasi kota kedesa misalnya masuknya produk, perilaku dan nilai kekotaan kedesa;
Ko-operasi kota-desa, yang pada umumnya berupa pengangkatan produk yang bersifat kedesaan kekota. Salah satu bentuk hubungan antara kota dan desa antara lain:
Urbanisasi dan urbanisme
Urbanisasi adalah suatu proses berpindahnya suatu penduduk dari desa kekota atau dapat dikatakan bahwa urbanisasi merupakan proses terjadinya masyarakat perkotaan.
Sebab-sebabUrbanisasi
Faktor-faktor yang mendorong pendudukdesa untuk meninggalkan daerah kediamannya (push factors)
Faktor-faktor yang ada dikota yang menarik penduduk desa untuk pindah dan menetap dikota (pull factors)
Hal-hal yang termasuk push factors antara lain:
Bertambahnya penduduk sehingga tidak seimbang dengan persediaanlahan pertaniannya
Terdesaknya kerajinan di desa olehproduk industry modern
Penduduk desa, terutama kaum muda merasa tertekan oleh adat istiadat yang ketat  sehingga mengakibatkan hidup secara monoton
Di desa tidak banyak kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan
Kegagalan panen yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti banjir kemarau panjang dsb, sehingga memaksa penduduk desa untuk mencari penghidupan lain dikota.
Hal-haltermasukfull factors antara lain:
Penduduk desa kebanyakan beranggapan bahwa dikota banyak pekerjaan dan lebih mudah untuk mendapatkan penghasilan
Dikota lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan usaha kerajinan rumah menjadi industry kerajinan
Pendidikan terutama pendidikan lanjutan, lebih banyak dikota dan lebih mudah didapat
Kota  dianggap mempunyai tingkat kebudayaan yang lebih tinggi dan merupakan tempat pergaulan dengan segala macam kultur kemanusiawiannya
Kota memberikan kesempatan untuk menghindarkan diri dari control sosial yang ketatatau untuk mengangkat diri dari posisisosial yang rendah (Soekanto. 1969 : 124- 125)

tugas analisis kerajaan hindu-budha (mata kuliah perkembangan masyarakat indonesia)


1.      Analisis tokoh Balaputradewa yang dihubungkan dengan kerajaan Mataram dan Sriwijaya
Balaputradewa merupakan cucu dari seorang raja dari Mataram kuno, Raja Dharanindra (berdasarkan prasasti  Kelurak). Ada pendapat yang menyebutkan bahwa Balaputradewa mewarisi tahta kerajaan Sriwijaya dari kakeknya dari pihak ibu (Sri Dharmasetu), pendapat lain mengatakan bahwa Balaputradewa menjadi raja di kerajaan Sriwijaya dikarenakan kekuasaan wangsa Syailendra yang sudah mencakup wilayah Sumatera yang didasarkan atas prasasti Kelurak. Hal ini diperkuat lagi dengan adanya prasasti Ligor yang menyatakan bahwa kerajaan Sriwijaya dikuasai wangsa Syailendra sejak zaman Maharaja Wisnu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Samaragrawira (ayah dari Balaputradewa) menyerahkan kekuasaan di Sriwijaya (Sumatera) kepada Balaputradewa, sedangkan Samaratungga (suami dari Pramodawardhani) di tempatkan di Jawa.
2.      Analisis perbedaan sisilah wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra
Perbedaan silsilah dalam wangsa Sanjaya dan Syailendra di sebabkan adanya perbedaan sudut pandang. Misalnya, teori dari Bosch yang berpegang pada prasasti Mantyasih lebih menekankan pada raja-raja yang berkuasa, terutama di kerajaan Medang. Sedangkan teori Slamet Muljana yang mengemukakan pendapatnya berdasarkan bukti-bukti yang tertulis dalam prasasti Kelurak, Nalanda dan Kayumwungan yang justru tidak menyebutkan adanya nama wangsa Sanjaya, sehingga beliau menyimpulkan bahwa Rakai Panangkaran, rakai Panunggalan, Rakai Warak dan Rakai Garung berasal dari wangsa Syailendra, sedangkan sisanya wangsa Sanjaya. Kecuali rakai kayuwangi yang berdarah campuran.
Namun, terdapat perbedaan yang mencolok diantara kedua wangsa/dinasti ini yaitu masalah agama yang dianut, wangsa sanjaya menganut agama Hindu aliran Siwa, dan berkiblat ke Kunjaradari di daerah India. Sementara wangsa syailendra raja-rajanya adalah penganut dan pelindung agama Buddha Mahayana.

3.      Hubungkan prasasti Ligor A dan Ligor B
Prasasti Ligor merupakan prasasti yang di temukan di daerah India bagian timur dengan berangka tahun 775 M berupa sebongkah batu bertulis di kedua sisinya. Sisi pertama disebut Ligor A yang memuat keterangan raja Sriwijaya dan pujian terhadap raja Sriwijaya. Sedangkan sisi kedua disebut Ligor B yang memuat keterangan mengenai seorang  raja bernama Wisnu yang bergelat Sarwarimadawimathana. Dari prasasti ini dapat disimpulkan bahwa daerah Ligor merupakan salah satu daerah kekuasaan Sriwijaya.
4.      Analisis tokoh Sanjaya dalam prasasti Canggal dengan Kitab Carita Parahyangan
Prasasti Canggal yang ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir memberikan gambaran yang cukup jelas tentang kehidupan politik Kerajaan Mataram Kuno. Prasasti ini bertuliskan tahun654 Saka atau 732, ditulis dengan huruf Palawa yang menggunakan bahasa Sansekerta. Prasasti Canggal mengisahkan bahwa, sebelum Sanjaya bertakhta sudah ada raja lain bernama Sanna yang memerintah Pulau Jawa dengan adil dan bijaksana. Sepeninggal Sanna keadaan menjadi kacau. Sanjaya putra Sannaha (saudara perempuan Sanna) kemudian tampil sebagai raja. Pulau Jawa pun tentram kembali. Prasasti Canggal ternyata tidak menyebutkan nama kerajaan yang dipimpin Sanna dan Sanjaya. Sementara itu prasasti Mantyasih menyebut Sanjaya sebagai raja pertama Kerajaan Medang, sedangkan nama Sanna sama sekali tidak disebut. Mungkin Sanna memang bukan raja Medang. Dengan kata lain, Sanjaya mewarisi takhta Sanna namun mendirikan sebuah kerajaan baru yang berbeda.
Naskah Carita Parahyangan Ditulis Sekitar Abad Ke-16, Jadi Berselang Ratusan Tahun Sejak Kematian Sanjaya. Dikisahkan, Nama Asli Sanjaya Adalah Rakeyan Jambri, Sedangkan Sanna Disebut Dengan Nama Bratasenawa, Atau Disingkat Sena. Sena Adalah Raja Kerajaan Galuh Yang Berhasil Dikalahkan Oleh Saudara Tirinya, Bernama Purbasora. Putra Sena, Yaitu Rahyang Sanjaya Alias Rakeyan Jambri Telah Menjadi Menantu Tarusbawa Raja Kerajaan Sunda.
Dapat disimpulkan bahwa tokoh Sanjaya yang tertera pada prasasti Canggal dan Kitab carita Parahyangan merupakan orang yang sama. Prasasti Canggal merupakn bukti sezaman dan setempat, sedangkan Kitab Carita Parahyangan merupakan bukti sejarah yang setempat tak sezaman dengan tokoh Sanjaya sendiri.
5.      Hubungkan antara prasasti Kelurak dengan Ligor B
Untuk menjelaskan hubungan antara prasasti Kelurak dengan Ligor B, Kami ambil dari pendapat Slamet Muljana yang menyatakan bahwa prasasti Ligor B di keluarkan oleh Maharaja Wisnu setelah Sriwijaya di kuasai oleh Syailendra. Wisnu dan Dharanindra (raja dari wangsa Syailendra) masing-masing dijuluki Sarwarimasawimathana dalam prasasti Ligor B dan Vairivadawimathana dalam prasasti Kelurak yang sama-sama bermakna  “pembunuh musuh-musuh perwira”. Selain itu, nama Wisnu dan Dharanindra memiliki arti yang sama, yaitu “pelindung Dunia”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Wisnu dan Dharanindra adalah orang yang sama. Hubungan dari kedua prasasti ini adalah sama-sama merupakan prasasti yang memuat tentang keterangan dari raja kerajaan Sriwijaya.
6.      Analisis hubungan Pramodawardhani dan Balaputradewa
Menganai hubungan antar Pramodawardhani dan Balaputradewa, terdapat dua pandangan. Pandangan pertama  yang dikemukakan oleh De Casparis menyebutkan bahwa Pramodawardhani adalah saudara kandung dari Balputradewa. Teori ini dibantah oleh Slamet Muljana karena menurut prasasti Kayumwungan, Samaratungga hanya memiliki seorang anak perempuan bernama Pramodawardhani. Menurutnya, Balaputradewa lebih tepat disebut sebagai adik Samaratungga. Dengan kata lain, Samaratungga adalah putra sulung Samaragrawira, sedangkan Balaputradewa adalah putra bungsunya.  Berdasarkan analisis prasasti Ligorpun menyebutkan bahwa Balaputradewa merupakan adik dari Samaratungga.
7.      Hubungan antara prasasti Kedu dan Wanua Tengah
Pada dasarnya prasasti kedu (mantyasih) memiliki isi yang hampir sama, yaitu menuliskan tentang daftar raja yang berkuasa pada masa kerajaan mataram kuno, hanya saja prasasti wanua tengah dianggap melengkapi isi dari isi prasasti kedu,dimana dalam prasasti wanua tengah terdapat 12 nama raja mataram kuno, sementara prasasti kedu (mantyasih) hanya terdapat 9 nama raja saja
8.      Hubungan antar Airlangga dengan Raja-raja Bali
Airlangga  atau sering pula ditulis Erlangga, adalah pendiri Kerajaan Kahuripan, yang memerintah 1009-1042 dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Nama Airlangga berarti "Air yang melompat". Ia lahir tahun 990. Ayahnya bernama Udayana, raja Kerajaan Bedahulu dari Wangsa Warmadewa. Ibunya bernama Mahendradatta, seorang putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang. Waktu itu Medang menjadi kerajaan yang cukup kuat, bahkan mengadakan penaklukan ke Bali, mendirikan koloni di Kalimantan Barat, serta mengadakan serangan ke Sriwijaya.
Airlangga menikah dengan putri pamannya yaitu Dharmawangsa Teguh (saudara Mahendradatta) di Watan, ibu kota Kerajaan Medang (sekarang sekitar Maospati, Magetan, Jawa Timur). Ketika pesta pernikahan sedang berlangsung, tiba-tiba kota Watan diserbu Raja Wurawari yang berasal dari Lwaram (sekarang desa Ngloram, Cepu, Blora)[1], yang merupakan sekutu Kerajaan Sriwijaya. Kejadian tersebut tercatat dalam prasasti Pucangan (atau Calcutta Stone). Pembacaan Kern atas prasasti tersebut, yang juga dikuatkan oleh de Casparis, menyebutkan bahwa penyerangan tersebut terjadi tahun 928 Saka, atau sekitar 1006
Pada usia muda Airlangga dikirim ke istana pamannya, Raja Jawa (Raja Dharmawangsa), untuk belajar dan akhirnya menikah. Ketika kerajaan hancur oleh perang saudara, para pemenang mengundang Airlangga untuk mengambil alih takhta pamannya yang sudah mangkat.
Airlangga berusaha keras membangun kembali kerajaannya. Ia bahkan menggabungkan pulau Bali, pulau kelahirannya, menjadi bagian kerajaannya dan memerintah pulau Bali melalui tangan adiknya sendiri, Marakata dan kemudian adik bungsunya Anak Wungsu. Dengan demikian Airlangga memperkuat hubungan budaya dan politik antara Jawa dan Bali yang terus berlanjut, dan dengan demikian sangat menguntungkan Bali, selama lebih dari tiga abad. Bagaimanapun hubungan antara Jawa dan Bali tidaklah selalu mulus. Orang-orang Bali seringkali memberontak, membebaskan diri dari kekuasaan raja-raja Jawa. Orang-orang Jawa, mula-mula Raja Kertanegara dari Singasari (1262 TM) dan kemudian para bangsawan Majapahit berkali-kali menyerang Bali untuk menanamkan kekuasaannya lagi. Raja Kertanegara dari Singasari menyerang Bali dua kali pada tahun 1262 dan 1284 untuk menaklukkan Bali. Di kemudian hari, Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit menyerang Bali pada tahun 1343 TM dan membunuh Raja Bali Aga terakhir dari Dinasti Pejeng yaitu Sri Asta Sura Ratna Bhumi Banten atau Raja Tapolung atau Dalem Bedahulu (Bedulu).
Sejak saat itu Bali menjadi sebuah propinsi yang tunduk pada penguasa pusat di Majapahit, Jawa Timur. Para penguasa Majapahit mengangkat Kresna Kepakisan, seorang brahmana keturunan Kediri (juga keturunan Airlangga!) untuk memerintah Bali. Kepakisan mendirikan dinasti yang menurunkan raja-raja Bali, yang bertindak lebih sebagai pendukung ketimbang sebagai bawahan Majapahit. Dia dan para raja keturunannya sering menggunakan gelar Jawa Susuhunan yang berarti Maharaja. Walaupun banyak juga yang menggunakan gelar asli Bali seperti Dewa Agung, atau Tuhan Yang Agung, sehingga menyiratkan arti bahwa mereka memerintah secara bebas merdeka atas perintah para Dewa. Kepakisan membangun puri (istana)-nya di Samprangan, di sebelah timur Kota Gianyar sekarang dan memerintah dengan keras namun adil atas seluruh Pulau Bali. Keturunannya kemudian memindahkan ibu kota ke Gelgel, di sebelah selatan Kota (Semarapura) Klungkung sekarang.
Ketika Kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1515 M. muncullah Kerajaan Islam Demak, Pajang dan Mataram yang giat menyebarkan pengaruh Islam. Ribuan bangsawan, imam, serdadu, seniman, pengrajin dan rakyat yang menolak masuk Islam kabur dari Jawa ke Bali. Sebagian mengungsi ke pegunungan Bromo-Tengger di Jawa Timur. Di Bali mereka membawa pengaruh baru dalam tatanan sosial, bahasa, agama, budaya dan kesenian, sehingga seolah-olah agama Hindu yang sudah kuat berakar di Bali dan kesenian Bali makin berkembang menjadi jauh lebih kaya.
9.      Sumber-sumber dari China tentang Hindu Buddha
Sumber-sumber China mengenai kerajaan Hindu Buddha Sumber- sumber yang berasal dari China mengenai kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia terdapat pada:
a)   Berita Fa Hien
Fa Hien adalah seorang pendeta Buddha yang akan kembali ke China dari ziarah di India. Pada tahun 414, ia terpaksa singgah di Ye-Po-Ti yang di identifikasi sebagai kerajaan Tarumanegara karena kapal yang di tumpanginya mengalalmi kerusakan.
b)   Berita Dinasti Sui dan Dinasti Tang
Berita ini mengatakan bahwa pada tahun 528-538 telah datang utusan dari Tolomo. Sementara itu, berita dari dinasti Tang pun mengungkapkan bahwa pada tahun 666-669 datang utusan dari Tolomo yang di mungkinkan sebagai Kerajaan Tarumanegara.
c)      Berita I Tsing
     I Tsing adalah pendeta Buddha yang pada tahun 762, dalam perjalanannya ke India, ia singgah di Sriwijaya selama 6 bulan. Ia menyatakan bahwa di Sriwijaya terdapat 1000 orang pendeta yang menguasai agama seperti di India.
d)     Berita Dinasti Sung
Dinasti ini menyatakan bahwa antara tahun 971-972 telah datang berkali-kali utusan  dari Sriwijaya ke China. Namun utusan tersebut tidak segera pulang, tapi singgah di Kanton karena Sriwijaya di serang oleh kerajaan Shepo (Jawa)

e)      Berita Dinasti Ming
Dinasti ini mengatakan bahwa pada tahun 1376 kerajaan Sriwijaya telah di tundukkan oleh raja dari Jawa (kerajaan Majapahit). Dinasti Ming ini pun menyebutkan perang antara Wikramawardhana dan Bre Wirabumi. Sedangkan di tahun 1499 menjelaskan adanya hubungan diplomatik antara China dan Jawa.
f)          Kitab Ling- Wai-Tai-Ta
Kitab ini di susun oleh Chou Ku Fei tahun 1178. Isinya memberikan gambaran tentang keadaan pemerintahan dan masyarakat pada zaman kerajaan Kediri.
g)   Kitab Chu-fan-chi
            Kitab ini di tulis Chau Ju Kua. Kitab ini menjelaskan tentang kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya ,masyarakat Kediri.
h)   Berita Ma Huan
         Ma Huan dalam bukunya yang berjudul Ying-Yai, menulis tentang keadaan kerajaan Majapahit

10. Sumber-sumber  dari Timur Tengah dan Eropa mengenai kerajaan Hindu Buddha
a)        Berita Portugis
Berita Portugis menyebutkan bahwa pada tahun 1518, di Jawa masih ada kerajaan kafir di pedalaman yang di kuasai oleh Pate Udara. Berita dariPortugis pun menyebutkan bahwa pada tahun 1512-1521, Ratu Samian dari Pajajaran memimpin perutusan ke Malaka untuk mencari Sekutu. Ppada tahun 1522, utusan Portugis bernama Hendrik de Leme datang ke Pajajaran.
b)      Berita Tome Pires
Tome pires adalah orang Portugis yang berlayar ke Indonesia pada tahun 1513. Ia menyatakan bahwa ibu kota Pajajaran disebut Dayo yang letaknya kira-kira dua hari perjalanan dari Sunda Kelapa. Dan juga dalam buku suma oriental tomo pires menuliskan salah satunya tentang kerjasama antara kerajaan pajajaran dan portugis